*Refresh (tarik ke bawah pada browser chrome) jika ada item (gambar, ikon) yang tidak ditampilkan dengan baik.

Sila dibaca dan diapresiasi
Donatur bulan Mei 2020: Anonim berdonasi sebesar Rp50.000 untuk "Pembalasan Mie Ayam dari Neraka". Anonim berdonasi sebesar Rp50.0000 untuk "Prahara Berdarah di Prapatan jengkol" .

21 April 2020

Kabut di Halimun Kencana



1. Tersesat

Jalan setapak itu berundak-undak dengan batu dan akar yang tersembul dari dalam tanah, membentuk anak tangga alami. Lumut menyelimuti permukaannya disertai semak belukar dan jamur di sekitar. Sinar matahari nyaris tak dapat menembus celah-celah daun pohon yang rimbun dan tinggi
menjulang.


Dewa terus menelusuri jalur yang merupakan rute alternatif dari Gunung Putri menuju Gunung Gede itu. Ia terus bergerak sambil berharap akan segera bertemu dengan kelompoknya atau pendaki lain di tengah perjalanan.

Beberapa jam yang lalu ia telah terpisah dari rombongannya, sejak ia tiba-tiba berhenti di balik sebuah pohon dan mengeluarkan isi kandung kemihnya yang hampir tak bisa dibendung lagi. Sayangnya saat itu Dewa tidak memberi tahu siapapun dari kelompoknya kalau ia ingin buang air. Waktu itu ia pikir hanya butuh waktu sebentar saja. Setelah selesai berkemih, Dewa segera menyusul mereka. Ia terus berjalan dan mempercepat langkahnya, tapi tidak juga terlihat punggung teman-temannya.

Berkali-kali ia memanggil nama mereka, tak ada satu pun yang menyahut. Hanya terdengar suara-suara alam seperti kicau berbagai macam burung dan gemerisik dedaunan yang diterpa angin, lalu disusul sunyi. Sepertinya ia benar-benar sedang sendirian di tengah hutan.

Berkali-kali juga ia berusaha menelepon mereka, tapi percuma saja, tidak ada sinyal sama sekali di ponselnya. Dewa diam sejenak dan berpikir untuk menunggu mereka menemukannya.

“Kalau mereka sadar gue nggak sama mereka, kan mereka pasti turun nyari gue…”

Namun setelah hampir setengah jam ia menunggu, tidak ada satu pun yang datang. Dewa menyadari hari sudah menjelang sore. Suasana di hutan menjadi lebih gelap dari sebelumnya.

“Ah, buang-buang waktu aja! Mungkin mereka sudah sampai di alun-alun sesuai rencana. Kalau begitu gue harus cepat nyusul ke sana.”

Dewa melanjutkan perjalanannya dan terus bergerak ke atas, agar bisa segera keluar dari hutan sebelum malam datang.

Matahari sudah mulai turun ketika akhirnya ia tiba di sebuah padang rumput yang luas dan landai. Rumput ilalang dan berbagai jenis tanaman bunga terhampar dengan indahnya.

“Ini pasti alun-alun Surya Kencana,” batin Dewa tersenyum. Ia bersyukur telah berhasil keluar dari hutan dan menemukan padang rumput ini. Kemungkinan untuk bertemu dengan rombongannya semakin besar.

Dewa segera berjalan ke tengah padang rumput dan menebarkan pandangannya ke segala penjuru. Matanya berharap akan menemukan tanda-tanda adanya pendaki lain selain dirinya. Tapi sejauh mata memandang, hanya hamparan rumput dan pepohonan kecil yang ia lihat. Tak ada tenda, tak ada orang.

Dewa mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menelepon teman-temannya lagi. Masih tidak ada sinyal. Malah lampu LED kecil berwarna merah di ujung ponselnya berkedip-kedip tanda mulai kehabisan baterai. Ia menutup ponselnya dengan putus asa. Kini ia benar-benar kebingungan.

“Sendirian, Kang?” sebuah suara lembut menyapanya dari belakang.



*



2. Perempuan di Lereng Gunung

Dewa terlonjak kaget dan spontan memutar tubuhnya menghadap ke asal suara itu. Seorang perempuan cantik berdiri di hadapannya dengan rambut hitam panjang terurai. Ia terpana melihat kecantikan perempuan itu. Di saat yang bersamaan, bulu kuduknya meremang seketika.

“Astaga! Dari mana dia datang?” hatinya bertanya-tanya, sementara jantungnya berdetak kencang tak karuan.

Perempuan cantik. Muncul tiba-tiba. Di tengah padang rumput di lereng gunung. Tidak ada orang lain di sekitarnya. Sungguh perpaduan yang mencurigakan.

Dewa berusaha menenangkan dirinya. Berharap perempuan di hadapannya itu benar-benar manusia.

“Akang tersesat, ya?” tanya perempuan itu membuyarkan usaha Dewa untuk bersikap tenang.

“Eh, i-iya, Teh... Saya terpisah dari rombongan. Teteh liat ada rombongan pendaki lewat sini?” Dewa gelagapan.

Perempuan itu menggelengkan kepalanya, “Tidak, Kang...”

“Haduh!” Dewa menjatuhkan pundaknya. Ia menunduk lemas, sambil diam-diam melihat ke bawah. Kaki perempuan itu menjejak di tanah! Dewa bernapas lega.

Meski begitu tetap saja kedatangannya yang tiba-tiba tadi membuat jantung Dewa hampir copot. Apalagi hari sudah senja, langit sudah nyaris gelap, kabut mulai menghalangi pandangannya. Siapa yang tidak kaget dihampiri seorang perempuan di lereng gunung yang sepi begini?

“Teteh tinggal di dekat sini? Tahu tempat biasanya orang kemping?”

“Iya saya tinggal di desa dekat sini, Kang. Kalau yang Akang maksud Surya Kencana, tempatnya di sana,” ujar perempuan itu menunjuk ke seberang mereka.

Dewa mulai semangat lagi, seperti melihat setitik harapan. Ia tersenyum lebar pada perempuan itu, “Ya sudah kalau begitu saya ke sana deh. Terima kasih ya, Teh...” Dewa beranjak maju.

“Tapi di depan situ ada jurang, Kang. Dari sini Akang nggak bisa langsung lurus ke sana. Akang harus balik lagi ke hutan, memutar lagi ke jalur yang tadi Akang lewati. Turun aja terus, nanti ada pertigaan, belok kiri, nanti naik lagi,” urai perempuan itu sambil menunjuk ke hutan di belakangnya, ke arah deretan pepohonan yang sudah menggelap.

Dewa kembali lemas. Seingatnya tadi sepanjang jalan ia tidak menemukan pertigaan. Mungkin ia melewatkannya.

“Jauh nggak, Teh?”

“Lumayan, Kang. Sekitar 3-4 jam.”

Dewa menepuk jidatnya. Ia sudah terlalu lelah untuk kembali ke hutan dan berputar arah. Apalagi hari mulai gelap, di dalam hutan pasti gulita. Jika ia terus nekat, bisa-bisa ia tambah tersesat lebih jauh lagi.

“Sudah hampir malam, Kang. Cari teman-temannya besok saja. Sekarang Akang bermalam di desa saya saja dulu. Desa saya dekat kok dari sini.”

Dewa berpikir sesaat, mempertimbangkan apakah ia akan bermalam di padang rumput ini atau di desa terdekat. Perempuan itu menatap matanya, membuat Dewa tidak fokus. Apalagi perutnya mulai terasa perih karena sejak tadi menahan lapar, membuatnya tak bisa berpikir jernih.

“Hari sudah gelap, saya harus segera pulang, Kang. Akang jadi mau ikut saya, tidak?”

Perempuan itu membalikkan tubuhnya dan mulai menyusuri jalan setapak di antara rumput ilalang. Langit sudah bertambah gelap, angin gunung semakin dingin, kabut pun semakin tebal menyelimuti area itu. Perempuan itu menoleh ke arah Dewa dan mengerlingkan matanya. “Ayo, Kang.”

Dewa segera menyusul perempuan itu sebelum ia menghilang di tengah kabut.

“Tunggu, Teh! Saya ikut!”



*



3. Rarasati

Perempuan itu tersenyum ke arah Dewa yang setengah berlari mengejarnya.

“Saya ikut ke desa Teteh aja, deh. Numpang tidur di rumah warga, boleh?”

“Boleh, Kang. Nanti saya ajak ke rumah tetua desa. Besok kami bantu cari teman-teman Akang.”

“Terima kasih ya, Teh,” Dewa tersenyum lega. “Nama saya Dewa,” ia mengulurkan tangannya.

“Saya Rarasati,” perempuan itu menyambut uluran tangan Dewa sambil tersenyum manis. Begitu tangan mereka bersentuhan, Dewa merasakan getaran listrik yang sangat kuat menjalar dari telapak tangan sampai ke dadanya. Hingga beberapa saat, Dewa belum juga melepaskan jabatan tangannya. Ia memandang wajah Rarasati tanpa berkedip dengan senyum mengembang.

“Mari, Kang,” Rarasati melepaskan tangannya dan membalikkan tubuhnya yang ramping.

“Sini barangnya saya bantu bawa, Teh,” Dewa menawarkan diri membawa keranjang yang dipegang Rarasati.

“Ah, tidak usah, Kang. Ini ringan. Cuma daun-daun buat lalapan,” Rarasati menunjukkan isi keranjangnya yang berisi dedaunan segar yang baru saja dipetiknya sebelum bertemu Dewa tadi.

Mereka pun terus berjalan menelusuri jalan setapak menuju desa. Sepanjang perjalanan, Dewa tak henti-hentinya memperhatikan Rarasati. Rambutnya, punggungnya, pinggulnya, kakinya, semua seakan tengah menggoda imannya. Jantungnya berdebar kencang, mengalahkan kencangnya hembusan angin gunung yang dingin.

Hanya sebentar saja mereka sudah sampai di sebuah desa kecil yang terletak di lereng gunung. Rarasati memandu Dewa melalui jalan yang terbuat dari tanah di antara rumah-rumah sederhana dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Beberapa orang terlihat sedang bersiap masuk ke rumah masing-masing. Mereka menoleh ke arah Dewa yang sedang melewati rumah mereka dan memperhatikannya secara terus menerus. Dewa merasa risih. Ia tersenyum basa-basi ke arah warga sambil terus mengikuti langkah Rarasati.

Mereka berhenti di depan sebuah rumah dan mengucapkan salam. Seorang lelaki tua yang tampak bersahaja dengan baju yang serba hitam dan ikat kepala merah keluar menyambut mereka. Sama seperti warga desa lainnya, lelaki tua itu pun memperhatikan Dewa dari atas ke bawah dengan tatapan penasaran.

Lelaki tua itu bernama Abah Awi, seorang tetua desa. Rarasati memperkenalkan Dewa kepada Abah Awi. Dewa menjelaskan kalau dirinya adalah seorang pendaki dari Jakarta yang tersesat dan bermaksud menginap dulu semalam di desa itu. Abah Awi tersenyum dan mempersilakan Dewa masuk ke rumahnya.

“Silakan masuk, Nak Dewa. Kamu boleh menginap di sini sampai kapanpun kamu mau.”

“Terima kasih, Bah. Malam ini aja cukup. Besok pagi-pagi saya mau ke hutan lagi cari teman-teman saya.”

“Itu gampang diatur,” Abah Awi membuat gerakan menepis. “Besok saya suruh anak-anak nemenin kamu balik ke hutan cari teman-teman kamu. Sekarang ayo kita makan dulu. Istri saya kebetulan baru selesai masak. Kamu pasti lapar, kan?” Lelaki tua itu menggiring Dewa dan Rarasati masuk ke dalam rumahnya.

Di dalam rumah yang sederhana itu telah tersaji berbagai macam makanan khas yang menggugah selera. Nasi putih hangat yang masih mengepul di bakul, tumis kangkung, pepes tahu, tempe goreng, ikan mas goreng, lengkap dengan lalapan dan sambal terasi.

Dewa menelan ludah. Perutnya yang dari tadi sudah keroncongan minta segera diisi, tapi ia berusaha untuk tetap bisa menahan diri. Mereka duduk melingkar di tikar dan mulai menyantap makanan yang telah disediakan. Dewa melahap semua makanan yang terasa sangat nikmat di lidah dan di perutnya. Terlebih lagi ada Rarasati duduk di depannya, kenikmatan yang ia rasakan menjadi berkali-kali lipat, terutama saat mata mereka bertemu dan saling mencuri pandang. Dewa merasakan kehangatan dan kenyamanan yang luar biasa.

Sepertinya ia jatuh cinta pada Rarasati.



*



4. Desa Halimun Kencana

Malam itu Dewa berbaring di ruang tengah rumah Abah Awi dengan perut kenyang dan hati yang senang. Tidak ada lagi kekhawatiran soal kelompoknya yang entah sedang berada di mana sekarang. Ia bahkan tidak memikirkan ponselnya telah mati kehabisan baterai beberapa jam yang lalu. Tidak ada soket listrik untuk mengisi baterai ponsel di rumah itu. Bahkan semua rumah di desa itu tidak menggunakan listrik. Mereka memakai lampu tempel atau lilin sebagai penerang ruangan. Namun semua itu seolah tak membebani pikirannya. Yang ada di kepalanya sekarang hanyalah Rarasati seorang.

Masih terbayang di ingatannya ketika selesai makan malam tadi mereka berempat; Dewa, Rarasati, Abah Awi dan istrinya, mengobrol panjang lebar di beranda. Dari mereka Dewa tahu bahwa desa itu bernama Desa Halimun Kencana. Letaknya di lereng Gunung Putri. Berbeda dengan alun-alun Surya Kencana yang selalu ramai oleh pendaki, Desa Halimun Kencana nyaris tidak pernah terjamah orang dari luar. Hanya sedikit pendaki yang pernah masuk ke wilayah desa, itu pun karena tersesat, seperti Dewa saat ini.

Dari mereka juga Dewa baru mengetahui tentang sebuah legenda di tempat itu yang masih berhubungan dengan legenda Tangkuban Perahu. Legenda tentang pelarian Dayang Sumbi.

Menurut kisah, di akhir cerita Sangkuriang dengan marah menendang perahu buatannya karena rencananya gagal. Perahu yang ditendang itu terbalik dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu. Setelah itu ia mengejar Dayang Sumbi, ibunya yang ingin ia nikahi. Dayang Sumbi melarikan diri sampai ke Gunung Putri. Ketika ia hampir tertangkap oleh Sangkuriang, ia memohon kepada Sang Hyang Tunggal untuk menyelamatkannya. Seketika Dayang Sumbi berubah menjadi setangkai Bunga Jaksi. Sangkuriang pun pergi ke suatu tempat dan menghilang ke alam gaib.

Sejak itu, menurut penduduk setempat di lereng Gunung Putri sering terlihat seorang perempuan berdiri di padang rumput di antara hamparan Bunga Jaksi. Konon dia adalah jelmaan dari Dayang Sumbi.

Dewa mendengarkan cerita itu antara percaya dan tidak. Baginya legenda itu bisa jadi hanya sekedar mitos atau cerita yang dikarang oleh orang-orang zaman dulu untuk memberi pelajaran bagi anak-anaknya agar tidak durhaka pada orang tua. Benar atau tidaknya, ia tak berminat untuk mendebatnya. Yang pasti ia bersyukur di padang rumput itu ia bertemu dengan Rarasati dan diajak ke desa itu. Dengan demikian ia tidak harus bermalam di padang rumput.

Setelah membicarakan legenda, mereka membicarakan tentang diri mereka masing-masing agar bisa saling mengenal. Dewa amat tertarik mendengar cerita Rarasati. Rupanya Rarasati pernah menikah namun suaminya sudah lama meninggal. Ada perasaan lega di dada Dewa begitu mengetahuinya, entah mengapa.

Dewa membalikkan tubuhnya ke arah jendela, melihat langit yang gelap dan bintang yang bertebaran seperti permata. Bayangan wajah Rarasati tak bisa lepas dari pikirannya. Rasanya ia ingin sekali bertandang ke rumah Rarasati yang berada persis di sebelah rumah Abah Awi. Tapi tak mungkin ia berkunjung ke rumah seorang perempuan malam-malam begini.

“Eh, jendela ini menghadap ke rumah Rarasati. Apakah dia sudah tidur?” Dewa tak dapat menguasai gejolaknya. Ia menyingkap tirai jendela sedikit agar bisa memandang ke arah rumah Rarasati.

Dari jendela Dewa melihat salah satu ruangan di rumah Rarasati masih diterangi cahaya lilin. Di remang cahaya lilin itu ia melihat sepotong bayangan yang bergerak-gerak. Ia langsung tahu siapa pemilik bayangan itu hanya dari lekuk-lekuknya. Hasrat Dewa semakin membuncah.

Menyadari posisinya yang sulit, Dewa segera menutup tirai jendela. Ia mencoba bersabar menunggu datangnya pagi untuk bisa kembali bertemu dengan Rarasati. Semakin malam, suasana desa semakin sepi. Hanya suara binatang malam yang terdengar memecah sunyi. Dewa pun tidur pulas hingga pagi.



*



5. Seperti di Rumah Sendiri

Aroma kopi panas membangunkan Dewa dari tidurnya yang nyenyak. Hari sudah pagi rupanya. Ia bangun sambil mengerjap-ngerjapkan mata dan melihat Rarasati tengah berjalan ke arahnya. Dengan rambut digelung memperlihatkan lehernya yang putih jenjang, Rarasati terlihat lebih cantik dari kemarin. Dewa merasa seperti melihat bidadari.

"Sudah bangun, Kang Dewa? Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Rarasati sambil perlahan meletakkan secangkir kopi dan sepiring singkong rebus di depannya.

Ada aliran hangat yang mendesir di pembuluh darah Dewa ketika Rarasati melakukannya. Entah kenapa ia merasa seperti di rumah sendiri. Dengan rasa kenyamanan yang melebihi kenyamanan rumahnya di Jakarta, ia merasa tempat ini adalah tempat di mana ia memang seharusnya berada. Di sebuah desa di lereng gunung, di rumah yang tanpa peralatan listrik, dan di samping Rarasati. Ia ingin menghabiskan hidupnya bersama perempuan itu.

Hari itu hujan turun deras seharian. Kabut tebal turun menggelayut di seluruh wilayah desa. Dewa mengurungkan niatnya untuk kembali ke hutan mencari rombongannya. Bayangan jalur yang harus ditempuh akan menjadi jauh lebih sulit karena diguyur hujan dan tanah yang berlumpur membuatnya malas bergerak. Ia memutuskan besok saja ia meneruskan pendakiannya.

Dewa mengunjungi rumah Rarasati dan menghabiskan waktu bersamanya sepanjang hari. Ia membantu Rarasati merapikan rumah, memasak, apa saja. Ia begitu menikmati saat-saat bersama Rarasati. Tampaknya Rarasati pun merasakan hal yang sama. Malam harinya, di ruang tengah rumah Abah Awi, Dewa membisikkan selamat malam pada Rarasati dari balik jendela sebelum ia tertidur.

Keesokan harinya tibalah saatnya Dewa kembali mencari kelompoknya. Rarasati mengantar Dewa ke padang rumput tempat pertama kali mereka bertemu. Mereka berhenti di pintu gerbang menuju jalur yang akan membawa Dewa kembali ke hutan. Di depan pintu gerbang, mereka saling menggenggam tangan erat-erat, seakan tidak mau berpisah.

"Rarasati..." ujar Dewa pelan, ujung jarinya mengangkat dagu Rarasati menghadap ke wajahnya. Sejak kemarin ia tak lagi memanggil Rarasati dengan embel-embel "Teh". Ia merasa dengan menghilangkan panggilan itu akan menghilangkan jarak di antara mereka. Rarasati pun tak keberatan. Sebaliknya, Rarasati tetap memanggilnya dengan embel-embel "Kang".

Dewa menatap Rarasati. Mata indah Rarasati membalas tatapan, bagai menghujam jantungnya dan meniupkan kabut ke otaknya. Dewa tak bisa berpikir jernih. Detak jantungnya bergemuruh. Semakin lama ia menatap mata Rarasati, semakin pudar keinginannya untuk pulang. Lidahnya tak mampu mengucapkan kata-kata perpisahan. Tubuhnya ingin terus berdekatan dengan Rarasati.

Tanpa sadar ia menurunkan carrier dari pundaknya dan meletakkannya begitu saja di tanah.

Mata Rarasati terus menatapnya, seolah berkata bahwa ia tidak akan membiarkan Dewa pergi dari hadapannya. Dewa seperti terhipnotis oleh sorot mata itu. Pertahanannya goyah.

"Rarasati, aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu. Menikahlah denganku," tiba-tiba Dewa berlutut di hadapan Rarasati sambil menggenggam tangannya.

“Kamu serius, Kang? Kita baru kenal dua hari. Kamu belum tahu siapa aku...” Rarasati menjawab sambil terus menatap mata Dewa.

“Iya, aku tahu. Tapi perasaan ini begitu membuncah. Aku nggak bisa mengendalikannya. Aku mencintaimu, Rarasati.”

"Tapi kalau menikah denganku, kamu harus tinggal di sini, menjadi penghuni Gunung Putri selamanya. Kang Dewa mau meninggalkan semua yang kaumiliki?”



*



6. Sebuah Legenda

"Nggak masalah," jawab Dewa enteng. "Aku suka pegunungan, aku suka desa yang masih alami. Tapi yang paling penting, aku bisa terus bersamamu!"

"Meski kamu nggak akan ketemu lagi dengan teman-temanmu, orang tuamu, keluargamu?"

"Kan kita bisa mengunjungi mereka sesekali," tukas Dewa antusias. “Jakarta nggak terlalu jauh dari sini.”

Rarasati tertawa kecil, “Bukan soal jauh atau dekat, Kang. Tapi alam kita berbeda.”

“Maksudmu?”

"Kamu tahu, Kang... Wajahmu mirip dengan almarhum suamiku. Itulah kenapa aku juga tertarik padamu..."

"Oh, ya?" Dewa tersenyum berseri-seri mendengar kata-kata Rarasati.

"Dia adalah titisan dewa yang dikutuk menjadi seekor anjing."

Dewa tertawa spontan, mengira Rarasati sedang bercanda. Namun melihat raut wajah Rarasati begitu serius dan tersirat sedih di matanya, tawa Dewa terhenti. Ia menutup mulutnya dan mendengarkan cerita Rarasati dengan penuh perhatian.

"Di malam bulan purnama dia berubah ke wujud aslinya, seorang lelaki yang tampan dan gagah perkasa. Jika pagi tiba, dia akan kembali menjadi anjing. Tapi aku selalu merahasiakan hal itu pada anakku, karena aku takut nanti anakku malu karena punya bapak seekor anjing. Aku biarkan dia menganggap anjing itu sekedar binatang peliharaan. Itu adalah kesalahanku yang paling besar."

Dewa tak tahu harus bersikap bagaimana mendengarkan cerita Rarasati. Antara percaya dan tidak, ia berpikir kalau di desa terpencil itu hal-hal mistis masih sangat kental. Kejadian yang tidak masuk akal sekalipun sangat mungkin bisa terjadi. Rarasati tak mungkin bohong.

"Suatu hari mereka pergi berburu. Anakku pulang tanpa bapaknya. Rupanya secara tak sengaja ia membunuh bapaknya. Dia bilang tak sengaja, tapi tetap saja ia mengambil hatinya. Suamiku mati di tangan anaknya sendiri," Rarasati meneteskan air mata.

Dewa tak tega melihat Rarasati menangis. Ia memeluk Rarasati untuk menenangkannya meski pikirannya sendiri berkecamuk. Jika memang cerita itu benar, alangkah sedihnya jalan hidup Rarasati, batinnya.

"Lalu apa yang terjadi?"

"Aku memukulnya dan mengusirnya dari rumah."

Dewa terperanjat. Sebuah cerita yang tragis dan menyedihkan. Cerita itu terdengar familiar di telinga Dewa. Sebuah legenda yang selalu diceritakan kepadanya sejak kecil. Namun entah kenapa ia tak bisa mengingatnya dengan mudah.

"Aku ikut sedih mendengar ceritamu, Rarasati. Aku berjanji akan terus bersamamu dan membuatmu bahagia,” Dewa mengusap air mata di pipi Rarasati dengan ujung jarinya.

“Benar begitu, Kang Dewa?”

“Iya, Rarasati. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, Kang Dewa. Aku mau menikah denganmu.”

Dewa mengecup kening Rarasati. Mereka berpelukan, sambil menatap semburat warna jingga dan biru di langit yang mulai menggelap. Di malam hari barisan gunung berubah warna menjadi hitam pekat, seperti raksasa purba yang sedang tidur, berselimut kabut kelabu.

Mereka berjalan bergandengan tangan menuju desa. Kabut seakan ikut merangkul kebersamaan mereka. Malam itu juga mereka menghadap Abah Awi dan meminta beliau untuk menikahkan mereka di hari berikutnya.



*



7. Pencarian

Seminggu sudah mereka bersama tim SAR dan petugas Jagawana mencari keberadaan Dewa. Mereka menyisir sepanjang lereng Gunung Putri menuju Gunung Gede, tetapi tidak ada jejak Dewa sama sekali. Sebagian dari mereka menunggu di pos penjaga di kaki gunung, berharap Dewa akan segera ditemukan.

Seorang lelaki tua berpakaian serba hitam dan memakai ikat kepala merah duduk bersama mereka di pos. Sambil meminum kopinya, ia mendengarkan cerita tentang seorang teman mereka sesama pendaki yang hilang di hutan.

"Maaf kalau bapak ikut nimbrung, Nak. Jadi ada teman kalian yang hilang?” tiba-tiba lelaki tua itu bersuara.

“Iya, Pak. Sudah seminggu,” jawab salah satu dari mereka.

“Dia hilang sehabis buang air kecil di hutan, Pak. Kami tunggu dia nggak datang-datang. Kami cari-cari, dia udah nggak ada,” imbuh satunya lagi.

“Hm… Teman kalian itu, siapa namanya?”

“Namanya Dewa, Pak.”

Lelaki tua diam sejenak, lalu melanjutkan, “Kalau menurut Bapak, rasa-rasanya dia tidak akan bisa ditemukan..."

Semua terkejut mendengar ucapan lelaki tua itu.

"Dia sudah masuk ke dalam jeratan dedemit penunggu hutan, diajak ke desa gaib, dan menikah dengan salah satu dari mereka. Tidak mungkin kembali."

“Masa sih, Pak? Kemarin waktu ikut tim SAR ke sana, kami seperti mendengar suara gamelan. Apakah itu…”

“Eeh, sudah, jangan ngomong yang aneh-aneh,” salah seorang dari mereka menepis omongan temannya. “Kita harus optimis kalau nanti kita bisa menemukan Dewa. Banyak orang yang sedang mencarinya. Sebentar lagi juga ketemu…”

Semua yang ada di tempat itu mengangguk-angguk dan mengamini ucapan temannya.

“Ya, mudah-mudahan saja... Semoga ketemu, ya…” lelaki tua itu tersenyum, kemudian berdiri. “Terima kasih kopinya, Nak. Bapak pergi dulu.”

“Baik, Pak. Hati-hati…”

Mereka mengiringi lelaki tua itu keluar dari pos. Ia berjalan sedikit agak tertatih memasuki hutan. Sosoknya perlahan menghilang di dalam kabut.



***
Suka dengan konten ini? Silakan berdonasi seikhlasnya agar sang kreator konten bisa sumringah dan bahagia karena karyanya diapresiasi.

Donasi via Gopay
  1. Buka aplikasi GoPay di ponsel.
    >
    Dari desktop: scan QR code di bawah ini menggunakan aplikasi Gopay.
    > Dari ponsel: screenshot atau unduh (tekan lama pilih "download gambar") gambar lalu unggah ke aplikasi Gopay kamu.
  2. Lalu kirimkan pesan berisi "DONASI (*PRODUK)" beserta nama email via fitur pesan yang ada pada aplikasi Gopay. *Ganti kata "PRODUK" dengan judul atau rilisan yang diapresiasi
Donasi via transfer bank
> Transfer ke rekening: BCA norek: 2611703980 a/n Ita Nuraidah
> Kirim bukti donasi ke email: si_gota@gmail.com dengan subyek: DONASI ("NAMA PRODUK")

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ikuti si Kami