*Refresh (tarik ke bawah pada browser chrome) jika ada item (gambar, ikon) yang tidak ditampilkan dengan baik.

Sila dibaca dan diapresiasi
Donatur bulan Mei 2020: Anonim berdonasi sebesar Rp50.000 untuk "Pembalasan Mie Ayam dari Neraka". Anonim berdonasi sebesar Rp50.0000 untuk "Prahara Berdarah di Prapatan jengkol" .

23 April 2020

Namanja Manusia, Mitos Sisifus, dan Nasib Tragis Umat Manusia



Sejarah berulang, begitulah katanya. Konon juga, kehidupan ini bersifat repetitif dan penuh paradoks. Seperti Sisifus yang terus menerus mendorong batu ke puncak gunung, seperti itulah nasib umat manusia. Sepanjang hidupnya, manusia bergulat untuk keluar dari permasalahan-permasalahan yang dihadapinya, mendorong batu itu ke puncak. Pergulatan itu menghasilkan apa yang kemudian membedakan manusia dengan makhluk lainnya: pengetahuan. Tapi karena pengetahuannya itu pula batu itu kembali jatuh ke dasar. Sebuah paradoks.
Namanja Manusia, sebuah komik saduran karya Taguan Hardjo, mungkin menggambarkan siklus tak berakhir itu. Dikisahkan seorang pemuda bernama Wan menyaksikan sahabatnya, Min, mati dieksekusi. Min dilempar ke jurang oleh sekelompok orang di kampung tempat mereka tinggal, karena dianggap telah melanggar sebuah peraturan yang berlaku di masyarakat tersebut. Dalam peraturan itu, yang dilakukan Min adalah pelanggaran berat dan harus dihukum mati.

Wan yang marah mengajukan protes dan mengamuk. Ia yakin benar, apa yang dilakukan Min bukan hanya tak boleh dihukum mati, tapi bahkan itu bukan suatu kesalahan. Baginya, peraturan itu tak lebih dari aturan konyol. Min, sahabatnya itu cerdas, berpikiran maju, tapi justru karena itulah ia jadi menanggung hukuman itu. Dan bagi Wan peraturan itu hanya mewakili orang-orang tua yang ingin menghalangi masyarakat untuk maju.

Wan adalah perwakilan dari hasrat manusia yang ingin tahu, dan jiwa muda yang ingin melampaui batas-batasnya sendiri. Ia tak takut pada mitos-mitos yang ada. Ia berani menerima resiko terburuk yang akan diterima demi memuaskan hasratnya, melakukan apa yang ia yakini sebagai kebenaran.
Tapi amukan Wan tak berarti apapun. Dalam sekejap ia berhasil dilumpuhkan, dan ditinggalkan begitu saja di bebatuan. Begitu siuman, Wan yang kesakitan dan marah dengan sedih menziarahi kubur Min. Tak disangka, di sana ia bertemu Wat, adik perempuan Min. Ia mengajak Wat untuk meninggalkan kampung, yang juga merupakan hal terlarang dalam peraturan itu. Sial, seseorang mendengar percakapan itu. Wan ditangkap dan dihukum cambuk oleh seluruh anggota masyarakat. Di tengah penderitaannya, Wan makin tak mengerti akan masyarakatnya, hingga seorang tetua kampung, Sal, memberikan penjelasan tentang asal-muasal peraturan itu.

Dengan pengetahuan yang telah diperolehnya, Wan justru mengalami dilema moral. Ia tahu sesuatu yang buruk telah terjadi di masa lampau, yang melatari lahirnya peraturan dimaksud, tapi ia sudah terlanjur memiliki pengetahuan lain, dan hasratnya yang tak terbendung itu membawa kisah ini pada akhir.

Komik bergenre distopia setebal 56 halaman ini, diakui Taguan, seperti tertulis pada halaman akhir, diilhami oleh komik berjudul Vicious Circle. Vicious Circle adalah komik yang ditulis oleh Carl Wessler dan digambar oleh Al Williamson, dimuat pertama kali di Weird Science Fantasy nomor #29 pada tahun 1955, diterbitkan oleh I.C. Publishing Co. Inc, kemudian dicetak ulang dalam sebuah kompilasi berjudul 50 Girls 50 and Other Stories Illustrated by Al Williamson, diterbitkan tahun 2013 oleh Fantagraphics, dan dalam The EC Archives — Incredible Science Fiction, diterbitkan tahun 2017 oleh Dark Horse Books.

Terdapat cukup banyak perbedaan jika kita membandingkan antara karya asli dan versi sadurannya ini. Dalam Namanja Manusia, meski Taguan tetap mempertahankan plot cerita berdasarkan versi aslinya, ia kemudian menambahkan beberapa tokoh dan konflik baru, serta mengganti akhir cerita. Dan seperti lazimnya karya saduran, ia juga mengganti nama tokoh-tokohnya, menyesuaikan dengan nama nama yang lebih lazim digunakan Indonesia.

Banyak hal yang mungkin menyebabkan perbedaan pada komik saduran ini. Dalam hal format misalnya, karena format yang digunakan Taguan adalah buku komik yang jumlah halamannya cenderung tidak dibatasi, ia bisa lebih leluasa untuk mengembangkan cerita dan dialog dan memperdalam pembangunan karakter tokohnya, dibandingkan dengan Vicious Circle yang dimuat di majalah, yang jumlah halamannya lebih terbatas. Sebagai konsekuensi dari pengembangan tersebut, jumlah panel dalam komik ini menjadi lebih banyak. Komik versi asli memiliki 38 panel dalam 6 halaman, sedangkan versi Taguan terdiri dari 99 panel dalam 56 halaman, yang berarti terdapat penambahan 61 panel baru. Susunan tata letak panelnya pun ikut berubah. Dalam format buku, Namanja Manusia mengikuti standar tata letak panel buku komik yang populer di Indonesia saat itu , yaitu standar dua panel. Versi aslinya, dengan format majalah memiliki panel yang lebih luwes dengan banyak panel dalam satu halaman.

Untuk setiap panel pada cerita asli, Taguan menambahkan sekitar 1-3 panel baru. Meski Taguan menggambar ulang keseluruhan panel, tampaknya ia cukup setia dengan tetap mempertahankan perspektif dari 38 panel sesuai dengan komik aslinya.

Satu langkah yang cukup penting yang dilakukan Taguan dalam membangun ketegangan dan rasa penasaran pembaca adalah ia menghilangkan sama sekali sebuah petunjuk, yang pada Vicious Circle diletakkan pada sebuah kalimat di panel kedua. Pada Namanja Manusia, pembaca dibuat tak mengetahui konteks waktu kejadian cerita, yang memang dipersiapkan untuk sebuah kejutan di bagian pertengahan/akhir. Apa yang dilakukan Taguan ini boleh dikatakan sangat berhasil.

Penyesuaian lain yang dapat diamati adalah adanya perbedaan sikap yang diambil oleh Wan (dalam Namanja Manusia) atau David (dalam Vicious Circle) terhadap Bapak Agung Sal (atau Samuel dalam Vicious Circle), pada halaman 26 (panel nomor 8 dalam Vicious Circle). Dalam versi Taguan, Wan mengangkat batu (untuk menyerang) karena tidak mengetahui siapa yang datang. Setelah ia mengetahui bahwa yang datang adalah Bapak Agung Sal, ia menurunkan batunya. Pada versi asli, David justru mengangkat batu karena ia tahu yang datang adalah Samuel, dan secara terang disebutkan bahwa ia membenci Samuel. Setelah ucapan dari Samuel, barulah ia menurunkan batunya. Ide tentang membenci orang yang lebih tua, tetua, atau pemimpin kelompok mungkin nampak aneh dan tidak sesuai bagi pembaca di Indonesia, sehingga bagian ini harus diubah sesuai dengan budaya Indonesia di mana penghormatan terhadap orang tua adalah salah satu yang paling utama.

Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Taguan ini secara keseluruhan cukup berhasil menambah kompleksitas dan kedalaman cerita, pembangunan karakter tokoh, lebih intense, dan tentu saja lebih dramatis. Tapi meski setia pada plot asli, apakah Taguan juga setia pada sudut pandang komik asalnya? Mari kita lihat dari beberapa perbedaan lain yang bisa dianalisa dalam konteks sudut pandang ini.
Dilema moral yang dialami Wan setelah mengetahui “kebenaran” yang dipaparkan oleh Bapak Agung Sal, hanya muncul di versi Taguan. Pada versi asli, kisah selesai ketika Samuel menjawab pertanyaan David tentang apa yang dilanggar oleh John (atau Min dalam Namanja Manusia). Di sini kita melihat Taguan membawa cerita ini pada perenungan yang lebih mendalam tentang keyakinannya, atau optimismenya terhadap pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai kemanusian. Pada akhir cerita, ia ingin menekankan premis bahwa ‘manusia itu pada dasarnya adalah baik’, dan percaya bahwa penerapan pengetahuan yang merupakan akibat dari rasa ingin tahu tak berbatas itu, meski merupakan suatu pelanggaran, haruslah dipandang sebagai suatu sikap positif.

Pandangan ini juga diperkuat dalam pemilihan judul komik. Alih-alih menerjemahkan Vicious Circle yang secara harfiah dapat diartikan sebagai “lingkaran setan” atau “lingkaran yang jahat”, Taguan memilih mengganti judulnya menjadi “Namanja Manusia”. Dari pemilihan judul ini, Taguan seperti hendak membuat pemakluman bagi “pelanggaran peraturan” yang dilakukan Wan dan Min, sebagai sebuah kewajaran yang memang seharusnya diterima sebagai bentuk pergulatan umat manusia terhadap permasalahan-permasalahannya, ketimbang menggambarkan bahwa pelanggaran peraturan tersebut sebagai sesuatu yang perlu dituding atas nasib buruk umat manusia selanjutnya. Dan meski keputusan pada akhir cerita ini berpeluang untuk mengulangi sesuatu (katakanlah itu sebuah kesalahan) yang sama sehingga sejarah umat manusia berulang secara tragis seperti siklus Sisifus, apa yang disuarakan Taguan lewat tokoh Wan dalam akhir komik ini mengafirmasi apa yang dikatakan oleh Camus bahwa “kita harus membayangkan Sisifus berbahagia”. Ya, namanya juga manusia.

Tabel Perbandingan Vicious Circle vs Namanja Manusia

Vicious Circle – Carl Wessler & Al Williamson
Namanja Manusia – Taguan Hardjo
Penerbit
I.C. Publishing Co. Inc.
Firma Harris, Medan
Tahun terbit
1955
1966
Jumlah halaman
6
56
Jumlah panel
38
99
Tata letak
Multipanel dalam 1 halaman
Paling banyak 3 panel dalam 1 halaman
Nama tokoh
David
John
Samuel
Wan
Min
Sal
Wat (tokoh baru)
Ut (tokoh baru)
Konflik
David vs Masyarakat (undang-undang)
Wan vs Masyarakat (undang-undang)
Wan vs Ut


              
Gambar. Cover Namanja Manusia (kiri), Weird Science Fantasy (kanan)



Suka dengan konten ini? Silakan berdonasi seikhlasnya agar sang kreator konten bisa sumringah dan bahagia karena karyanya diapresiasi.

Donasi via Gopay
  1. Buka aplikasi GoPay di ponsel.
    >
    Dari desktop: scan QR code di bawah ini menggunakan aplikasi Gopay.
    > Dari ponsel: screenshot atau unduh (tekan lama pilih "download gambar") gambar lalu unggah ke aplikasi Gopay kamu.
  2. Lalu kirimkan pesan berisi "DONASI (*PRODUK)" beserta nama email via fitur pesan yang ada pada aplikasi Gopay. *Ganti kata "PRODUK" dengan judul atau rilisan yang diapresiasi
Donasi via transfer bank
> Transfer ke rekening: BCA norek: 2060397891 a/n Chandra Agusta
> Kirim bukti donasi ke email: gerbongbelakang@gmail.com dengan subyek: DONASI ("NAMA PRODUK")


Tentang Penulis

Pemuda Gerbong Belakang.
Pemuda dusun. Menghabiskan masa anak anak dan remajanya di pelosok Sumatra. Melayu tulen.
E-mail: gerbongbelakang@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ikuti si Kami