*Refresh (tarik ke bawah pada browser chrome) jika ada item (gambar, ikon) yang tidak ditampilkan dengan baik.

Sila dibaca dan diapresiasi
Donatur bulan Mei 2020: Anonim berdonasi sebesar Rp50.000 untuk "Pembalasan Mie Ayam dari Neraka". Anonim berdonasi sebesar Rp50.0000 untuk "Prahara Berdarah di Prapatan jengkol" .

19 April 2020

Ulasan: Cergam Batas Firdaus - Taguan Hardjo




[SPOILER ALERT]

Seorang ayah dan putrinya terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Lewat sebuah koran bekas yang tak sengaja terangkat waktu sedang memancing, sang ayah tahu dunia telah hancur lebur akibat perang nuklir. Ia berkesimpulan bahwa kemungkinan hanya ia dan putrinyalah yang selamat, dan hanya mereka berdua jugalah manusia yang tersisa di muka bumi. Begitu kira-kira latar belakang kisah komik ini, Batas Firdaus karya Taguan Hardjo.


Pertanyaan kemudian muncul, menjadi dasar utama jalannya cerita. Jika mereka berdua adalah manusia terakhir di bumi, bagaimana mereka seharusnya menjalani hidup, menjaga kelangsungan eksistensi umat manusia, mengingat status keduanya adalah ayah dan anak?

Sang ayah mengalami konflik batin. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan kelangsungan eksistensi manusia di bumi, dan itu berarti ia harus mengawini anaknya sendiri. Baginya hal ini bukan soal memuaskan hasrat seksualnya semata melainkan sebuah tanggung jawab besar, dan ini adalah takdirnya. Haruskah spesies Homo sapiens mengalami kepunahan karena mereka tak berani melanggar norma norma yang mereka anut sebelumnya?





“Kau harus mengerti Imanda. Enam puluh tahun lagi radiasi bisa reda dan dunia dapat diisi kembali. Siapa yang harus memikul tanggung jawab itu? Entah bagaimana harus kukatakan… tapi djangan kau pandang aku sebagai ayahmu…” begitu kata sang ayah merayu putrinya. Sang anak jadi terguncang, kecewa, takut, dan putus asa, hingga memutuskan untuk bunuh diri. Namun tepat sebelum ia ditelan gelombang, ayahnya menyelamatkannya.

“Aku tak peduli pada nasib dan niatanmu! Tapi selama tak ada wanita lain di dunia ini, kaulah yang bertanggung djawab terhadap turunan manusia. Suatu dosa besar djika kau tak mau mengisi dunia ini kembali…!”

Dalam keadaan normal, hubungan seksual sedarah antara ayah dan anak sangat tak lazim, dan mungkin sebagian besar kita (termasuk dua tokoh komik ini) menganggapnya sebagai dosa besar. Tapi bagi sang ayah, dalam keadaan mereka sekarang, tak meneruskan kehidupan manusia jauh lebih berdosa. Ia terus merayu agar putrinya itu mau menuruti keinginannya. Tapi si anak tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang ia yakini. Ia menolak mentah-mentah keinginan si ayah. Baginya, hal itu sama dengan perilaku binatang. Ia menuduh ayahnya dikuasai iblis.

Hubungan mereka berdua memburuk setelah kejadian itu. Mereka tak saling bicara, hingga suatu pagi sesosok tubuh terdampar di pulau. Seseorang yang berbadan hitam besar dan berpakaian seperti laki-laki. Alih-alih gembira, sang ayah justru dirundung kesedihan dan kemarahan. Dan kutipan dialog berikut menampakkan maksud sang ayah sebenarnya. Urusan melanjutkan eksistensi manusia sebelumnya itu hanya sebuah alasan untuk menyembunyikan maksud sebenarnya, yang tak jauh-jauh dari urusan kelamin.

“Bukan karena ia hitam, nak. Bukalah matamu. Tidakkah kau lihat bahwa ia seorang laki-laki? Kau seorang wanita. Yang tertolong engkau, bukan aku! Djika kau kasihan padanya, uruslah sendiri orang itu…”

Adanya orang ketiga ini membuat hubungan ayah dan anak ini bertambah runyam. Sementara sang putri menerima kehadiran Si Hitam, sang ayah justru sebaliknya. Ia diliputi kecemburuan yang sangat. Konflik segitiga ini kian meruncing. Lebih-lebih, mereka tak bisa berkomunikasi dengan baik karena si Hitam rupanya tak mampu berbicara dalam bahasa mereka. Selanjutnya, kecemburuan, nafsu birahi, dan niat mulia melanjutkan kelangsungan hidup umat manusia terus berkelindan membangun jalan cerita hingga akhir.


***

Dalam komik ini kita dapat melihat bagaimana Taguan menggunakan dialog-dialog antar tokoh secara efektif untuk membangun karakter masing-masing tokoh. Sang ayah, terlepas dari kecemburuannya yang membabi buta dan keinginannya memenuhi nafsu birahi, dapat kita lihat sebagai sosok yang berani melawan kebiasaan lama. Dalam kondisi yang mereka alami, baginya melanggar norma lama bukanlah sebuah masalah. Norma-norma tersebut adalah konstruksi sosial yang tentu saja bisa berubah mengikuti keadaan.

“Dengar Imanda. Sikapku sejak dulu di pulau ini, bagimu sangat keji, disebabkan karena kau masih hidup di alam peraturan hidup lama, dalam norma susila yang lama. Kau harus tahu, bahwa ini adalah buatan manusia belaka dan tak luput dari pengaruh djaman”, begitu katanya.

Namun kehadiran si Hitam membuat ia harus memenangkan persaingan ini. Ia harus tampil lebih unggul. Karena itu ia menjadi rasis dan memandang rendah pada si Hitam.

“Bagaimana tak kutentang, bagaimana mungkin keturunan hitam, bongkok, bodoh tak berotak bisa mengatasi kesulitan kesulitan alam dan bertahan hidup serta berkembang?”

Tapi balasan sang anak sangat menohok, menolak prasangka tak beralasan dari sang ayah: “Ayah pura-pura lupa akan ucapan sendiri, bahwa orang-orang berotak jugalah yang telah memusnahkan dunia?”

Sang anak adalah konservatif tulen. Ia percaya betul norma-norma yang ia pegang teguh selama ini adalah kebenaran sejati.

“Di djaman Nabi Adam, kakak beradik mengembangkan keturunan, tapi tidak dengan buahnya sendiri. Semendjak di taman firdaus sudah tegas ada batas itu…!”

Lewat Batas Firdaus, Taguan mengajak pembaca merenungkan kembali arti dari keberadaan manusia dan nilai-nilai moral lewat konflik ayah-anak ini. Taguan tak hendak menggurui. Alih-alih menjadi “penceramah moral”, ia justru mengajak pembacanya memilih, tatkala ia membenturkan watak dan sikap sang ayah yang progresif (?) dengan putrinya yang konservatif, meski kemudian ia mengakhirinya dengan jalan tengah yang tak memenangkan salah satu dari keduanya.

Kisah memikat ini tak kemudian meninggalkan sisi utama komik, yaitu gambar. Gambar-gambar realis dengan teknik arsir yang rapi yang menjadi kekhasan Taguan Hardjo, membuat komik ini semakin memukau. Marcel Bonneff dalam bukunya Komik Indonesia memuji Taguan sebagai komikus dengan gambar yang cermat, dilandasi pengetahuan dokumenter, dan dinamis. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Taguan pandai menggunakan berbagai sarana ekspresif, seperti variasi angle, konteks, dan perkembangan cerita yang logis dan selalu diakhiri dengan penyelesaian yang jelas.


***


Batas Firdaus disebut-sebut sebagai salah satu karya terbaik Taguan Hardjo. Cerita yang sangat filosofis adalah salah satu kekuatan dari komik ini. Yang lebih lagi, ia membuat komik itu di tahun-tahun ketika situasi politik Indonesia sedang memanas, pun di sayap-sayap kebudayaan dan keseniannya.

Dalam tulisan Arswendo Atmowiloto, Taguan menyatakan ia tak berpihak pada ideologi-ideologi manapun yang saling bertentangan pada waktu itu. Namun, menurut Idris Pasaribu, seorang wartawan dan penulis novel, Taguan aktif di Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN). LKN merupakan organisasi kebudayaan yang bernaung di bawah Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berhaluan kiri, yang dibentuk dan diketuai oleh Sitor Situmorang.

Menurut Idris, Taguan pernah melarikan diri karena dikejar-kejar Pemuda Rakyat, karena dalam komiknya yang berjudul “Mati Kau Tamaksa”, ia menyindir tokoh-tokoh PKI. Meski LKN dan Lekra nampaknya memiliki garis kebudayaan yang sejalan dan dipenuhi oleh seniman-seniman kiri, PNI dan PKI memang nampaknya tidak berada di sisi yang sama.

Pernyataan Idris di atas disangsikan oleh Koko Hendri Lubis, penulis biografi Taguan Hardjo. Komik Mati Kau Tamaksa terbit di tahun 1968, ketika peristiwa berdarah itu telah lewat, dan tentu saja Pemuda Rakyat sudah bubar.

Firma Harris sendiri, tempat di mana Taguan bernaung, justru mengusung ideologi yang berlawanan. Harris Muda Nasution, pemilik Firma Harris, dekat dengan ideologi Masyumi. Ia juga pernah diadili di pengadilan karena kasus anti-nasakom. Ketika Sugiarti Siswadi, seorang seniman Lekra, mengecam buku-buku komik dalam artikelnya yang bertajuk “Literatur Kanak Kanak” di Harian Rakyat, Firma Harris menyediakan tempat bagi seniman-seniman komik medan, termasuk Taguan, untuk berkumpul mendiskusikan tulisan tersebut.


***


Taguan Hardjo telah menjadi legenda dalam dunia komik Indonesia. Ia adalah komikus lintas genre, ia mahir membuat cerita roman, kolosal, bahkan komik humor. Sepanjang karirnya, Taguan telah membuat puluhan judul komik. Karya-karya terbaiknya selain Batas Firdaus antara lain adalah Telandjang Udjung Karang, Intan Dirja Lela, dan Hikayat Musang Berjanggut. Ia juga disebut-sebut lebih dulu menggunakan istilah “nopel bergambar” daripada istilah “graphic novel” Will Eisner. Bersama beberapa nama lainnya macam Zam Nuldyn, Djas, dan Bahzar, Taguan memelopori apa yang kita kenal dengan komik medan.

Istilah “komik medan” nampaknya merujuk pada periode/angkatan tertentu ketimbang sebuah gaya atau aliran tertentu. Komik medan dimaksudkan untuk menyebutkan komik-komik yang terbit di kota Medan pada rentang tahun 1958–1971. Marcel Bonneff sendiri menyebutkan periode komik medan berlangsung antara 1960–1963.

Secara umum komik medan dicirikan dengan format yang memanjang/horizontal, dengan 2 - 4 panel dalam 1 halaman. Bentuk memanjang semacam ini sepertinya dipengaruhi oleh media tempat pertama kali komik ini diterbitkan, yaitu surat kabar. Kebanyakan komik komik medan memang terbit lebih dulu di surat kabar dalam format komik strip, sebelum kemudian terbit dalam bentuk buku. Komik Taguan Hardjo sendiri pertama kali terbit di surat kabar Waspada.

Meski begitu, kita juga dapat menemukan komik medan yang berformat vertikal, dengan jumlah panel yang bervariasi. Beberapa bahkan mempunyai bentuk bentuk panel bebas, seperti kita temui pada komik-komik Zam Nuldyn.
Untuk yang berformat memanjang, lebih banyak ditemui penulisan narasi dan dialog dilakukan dalam blok terpisah, seperti caption gambar, yang umumnya diletakkan di bagian bawah panel. Penulisan narasi pun tak dibuat khusus untuk satu panel. Ada kalanya teks-teks tersebut tersambung antar panel dengan pemenggalan yang tak selalu pas. Tak ada penggunaan balon kata. Penggunaan balon kata dapat ditemui pada komik-komik yang berformat vertikal.

Dilihat dari gaya ilustrasi, kita juga dapat menemukan beragam gaya dan teknik dalam komik komik medan. Taguan terkenal dengan teknik arsirannya yang rapi, sementara Zam Nuldyn menghias setiap panelnya dengan detail-detail yang menawan. Genre yang dipilih pun sangat beragam. Ada cerita rakyat, fantasi, kolosal, roman, humor atau komedi, detektif, horror, perjuangan, dan adaptasi/alih wana dari karya karya lain seperti cerita pendek, novel, atau mitologi.

Menurut Marcel Bonneff, komik medan mengalami kematiannya pada 1971. Geger politik 65 membuat perekonomian hancur. Koko Hendri Lubis dalam essaynya menyebut, penerbit-penerbit komik berhenti beroperasi karena langkanya kertas dan pemilik-pemilik penerbitan ini memilih banting setir pada usaha-usaha lain yang lebih menjanjikan. Sementara, Arswendo mengatakan bahwa kematian komik medan cenderung disebabkan oleh tak adanya regenerasi dari komikus komikus tersebut.

Puluhan tahun kemudian, komik-komik semacam ini tersimpan di lemari-lemari kolektor, beredar di grup-grup rahasia di facebook dengan harga selangit, dan tentu saja, terpisah dari kemungkinan pembacanya. Usaha untuk menerbitkan kembali komik-komik ini bukan tak ada. Tahun 1991, Hikayat Musang Berjanggut pernah diterbitkan ulang oleh penerbit Grafiti dengan format lebar. Lebih akhir, pada 2007, Anjaya Books menerbitkan ulang Dewi Krakatau karya Zam Nuldyn, mencoba memasuki kembali pasar komik Indonesia saat ini.

Data buku:

Judul: Batas Firdaus
Author: Taguan Hardjo
Tahun terbit: 1963
Penerbit: Firma Harris
Jumlah halaman: 76

Bahan bacaan:

Bonneff, Marcel. 1998. Komik Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
Lubis, Koko Hendri. 2017. Taguan Hardjo, Langsung dari Lubuk Hati. Jakarta: IKJ Press
Lubis, Koko Hendri. 2019. Kalam Yang Menggapai Bumi. Yogyakarta: Basabasi
Lubis, Koko Hendri. 2018. Roman Medan: Sebuah Kota Membangun Harapan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Atmowiloto, Arswendo. 1979. “Taguan Hardjo Raja Yang Menyongket Pesan”. Dalam Kompas, 5 September 1979. Jakarta
Manifesto Kebudayaan di Medan (1963–1964); Roy Harianto Sitorus; 2017
Anto, J. 2016. “Taguan Hardjo, Seniman Saksi Zamannya”, https://analisadaily.com/berita/arsip/2016/11/13/269621/taguan-hardjo-seniman-saksi-zamannya/, diakses pada 20 September 2019 pukul 20.00


Suka dengan konten ini? Silakan berdonasi seikhlasnya agar sang kreator konten bisa sumringah dan bahagia karena karyanya diapresiasi.

Donasi via Gopay
  1. Buka aplikasi GoPay di ponsel.
    >
    Dari desktop: scan QR code di bawah ini menggunakan aplikasi Gopay.
    > Dari ponsel: screenshot atau unduh (tekan lama pilih "download gambar") gambar lalu unggah ke aplikasi Gopay kamu.
  2. Lalu kirimkan pesan berisi "DONASI (*PRODUK)" beserta nama email via fitur pesan yang ada pada aplikasi Gopay. *Ganti kata "PRODUK" dengan judul atau rilisan yang diapresiasi
Donasi via transfer bank
> Transfer ke rekening: BCA norek: 2060397891 a/n Chandra Agusta
> Kirim bukti donasi ke email: echagusta@gmail.com dengan subyek: DONASI ("NAMA PRODUK")


Tentang Penulis

Pemuda Gerbong Belakang.
Pemuda dusun. Menghabiskan masa anak anak dan remajanya di pelosok Sumatra. Melayu tulen.
E-mail: gerbongbelakang@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ikuti si Kami