*Refresh (tarik ke bawah pada browser chrome) jika ada item (gambar, ikon) yang tidak ditampilkan dengan baik.

Sila dibaca dan diapresiasi
Donatur bulan Mei 2020: Anonim berdonasi sebesar Rp50.000 untuk "Pembalasan Mie Ayam dari Neraka". Anonim berdonasi sebesar Rp50.0000 untuk "Prahara Berdarah di Prapatan jengkol" .

19 April 2020

Utara Selatan Tentang Komik dan Rekomendasi Tempat Makan - Wawancara dengan Alzein P. Merdeka



"Mengobrol adalah suatu pekerjaan yang tak membosankan, menyenangkan, dan biasanya panjang-panjang.” ― Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam

Aduh, boleh juga tuh kutipan dari Pak Pram. Karenanya, aku kemudian mengontak lewat whatsapp, temanku yang juga adalah seorang komikus handal: Alzein Putra Merdeka, yang selanjutnya dipanggil Deka, untuk mengajaknya mengobrol utara selatan, alias ngalor-ngidul.



Gambar 1. Penampakan Alzein Putra Merdeka a.k.a Deka



Deka, sudah disebutkan tadi, benar benar adalah seorang komikus. Karya karya komiknya antara lain adalah Phagia (meraih Kosasih Award untuk kategori cerita komik terbaik di tahun 2016, selfpublished), Kolong Sinema (Honorable mention di PAKOBAN Award 2018, Rotasi Books), dan kompilasi komik Mungkinkah Barokah (nominator antologi terbaik di Pakoban 2019).



Gambar 2. Cover komik karya Deka

Selain membuat komik, Deka, bersama Azzam dalam kolektif Kolong Sinema, memproduksi film film horror berbudget rendah atau film B. Beberapa karyanya yang pernah kutonton adalah Kuntilanak Pecah Ketuban dan Goyang Kubur Mandi Darah.


Gambar 3. Poster Film karya Deka



Berikut, obrolanku dengannya tentang komik, horror, dan rekomendasi tempat makan:

Halo Deka, boleh kan kita mulai wawancaranya dengan pertanyaan apa kabar?

Tidak boleh. Hahahaha. Baik dan nggak baik juga nih, di masa-masa seram kayak gini.

Iya nih, situasinya lagi benar-benar suram. Apakah di dunia komik juga kena imbasnya?

Sepertinya terkena juga ini. Dengar-dengar banyak komik yang ditunda atau dipangkas di tengah jalan.

Waduuuh, benar benar situasi yang sulit, termasuk sulit juga untuk melanjutkan pertanyaannya. Hahahaha. Ngomong-ngomong, banyak seruan/himbauan untuk #artistsupportartist. Di skena komik nasional, gimana tuh?

Waduh, gimana ya? Sepertinya sih seruannya seru-seru aja. Hehe. Dan banyak juga temen-temen komikus (khususnya yang merangkap sebagai ilustrator) yang ikut menyerukan tagar itu di akun medsosnya.

Ganti topik aja deh. Jadi bingung sendiri aku melanjutkan pertanyaannya. Dengar-dengar kamu lagi bikin komik anyar, yah? Kasih bocoran sedikit boleh nggak?

Saya selalu bikin komik anyar yang nggak tahu kapan bisa kelar. Hahahaha. Tapi, iya nih, saya lagi ngumpulin ilmu dan materi buat komik Kolong Sinema selanjutnya. Selain itu, ini juga lagi nulis komik 100an halaman tentang pocong alien. Dua-duanya belum tahu kapan bisa kelar. Hahahaha. Soalnya kukerjain di sela-sela mengerjakan komik-komik kantor juga. Kira-kira begitu...

Pocong alien? Terdengar yahud.

Hehehe, begitulah. Matur nuwun lho, mas.

Selain komik kan kamu juga bikin film-film bertema horror. Kenapa sih kamu ambil tema horror? Dan tentang film? Eh, itu pocong alien horror kan, ya?

Karena sadar nggak sadar, sejak dulu aku merasa yang bikin aku geregetan buat bikin karya itu adalah film, komik, sama cerita horor tongkrongan.

Cerita horror tongkrongan? Apa itu?

Cerita horror tongkrongan itu cerita horor yang biasa diobrolin antar teman gitu lho mas.
Tiap nongkrong sama teman-teman di lingkaran manapun, kalau sudah kemaleman atau nongkrongnya kelamaan, hampir pasti ada selipan, atau ujung-ujungnya ngomongin hal mistis atau pengalaman seram. Sepertinya ini sudah mendarah daging buat orang Indonesia.

Pasti pernah kan, berbagi pengalaman horor gitu sama temannya?


Ooooo, yayaya. Pernah, dong. Biasanya kalau topik utama sudah selesai dibicarakan akan muncul topik horror dan mistis.

NHA INI! Tepattt! Makanya ini salah satu juga yag membuat saya merasa horor itu justru genre yang membuat saya nyaman dan mengasosiasikannya dengan keguyuban atau kebersamaan. Nonton horor, rame-rame, bahas pengalaman horor, sama teman-teman dekat. Di Kolong Sinema, saya dan partner saya, Azzam sepakat kalau nonton horor itu paling sedap ya ditonton bareng sama teman-teman.

Jadi pengalaman mistis itu lebih dekat ke "pengalaman seru" ketimbang menjadi "pengalaman traumatis" ya?

Iya juga ini. Kalau sampai bisa menceritakan pengalaman personal yang kelam, biasanya juga kepada orang yang sudah benar-benar dipercaya dan dekat kan, ya?

Iya, betul. Tapi ada juga yang menyampaikan pengalaman horror yang dialaminya buat pamer?

...atau biar bisa cepat diterima di lingkaran baru, juga sangat memungkinkan, ya?

Hahahaha, kalau ke lingkaran penikmat horror ya, iya...

Hahaha, betul mas.

Ngomong-ngomong, kenapa tokoh, judul, atau tema dari karya-karyamu suka crossing gitu: Pocong + Alien. Eh kalau Pocong Hiu itu Azzam aja ya? Sama kamu juga?

Pocong Hiu itu (karya) Azzam. Cinta banget juga saya sama pocong satu itu. Kayaknya waktu film itu dibikin, Kolong Sinema belum terbentuk.

Soal pocong alien, film itu (Pocong Hiu) juga jadi salah satu inspirasi saya. Soal cross genre ini bisa jadi kebiasaan saya juga. Tiap bikin komik, ada elemen lebih dari satu genre/subgenre yang saya masukkan.


Kalau sedang membuat cerita, saya sering menganggap bahwa yang mengarang adalah diri saya versi umur 12 tahun, yang tinggal di kepala saya, tapi diarahkan oleh diri saya yang sekarang.


Jadi itu imajinasi masa kecil?

Lebih ke... berusaha tetap berimajinasi bebas seperti anak-anak kali, ya mas? Tapi biasanya itu berjalan natural saja, sadar-tidak sadar.

Pernah dapat sesuatu pengalaman yang berkesan nggak dari penikmat karyamu?

Aduh apa ya?

Misalnya semacam komentar bodoh, gitu?

Oooh, komentar bodoh ya? Hahaha. Bukan bodoh sih, mungkin akumulasi dari ketidakjelasan saya bercerita, ditambah ilmu pembacanya yang ketinggian, dan interpretasi melenceng dari pembacanya.

Apaa tuuuch?

Di komik saya 'Phagia', ada yang pernah berkomentar salah satu adegan di sana merupakan simbol dari “kelahiran kembali”. Saya sama sekali tidak berpikir tentang itu sewaktu menggambar adegan yang dimaksud. Tujuannya sekadar menampilan visual seram dan “njijiki” saja. Tapi interpretasi yang sperti ini justru mengangkat cerita yang saya suguhkan, sih. Jadi menguntungkan ya, sepertinya? Biasanya kalau dapat komentar begini, dalam hati saya sering mbatin "dibaca seperti itu juga bisa! Terima kasih lho."

Itu diucapkan langsung? Atau lewat tulisan?

Agak lupa. Seingat saya di medsos beliaunya apa, ya? Atau komentar di postingan saya?

Cari, ah. Jangan-jangan aku yang komentar.

Bukan, kok. Saya ingat orangnya. Hehehe…

Kalau interpretasinya begitu, nilainya kan positif buat karyamu. Kalau yang bernilai negatif, ada nggak?

Kalau negatif...

Maksudnya dia punya tafsir sendiri, dan berbeda dengan maksud dan tujuan ceritamu. Bedanya itu sampai bertolak belakang.

Ooo, ada! Tapi saya lebih menyalahkan ke cara bercerita saya yang agak sok-sokan juga sih. Hahaha. Phagia juga. Ada adegan yg ditafsirkan sebagai mimpi/dalam bayangan karakter utama saja. Padahal semua yang ada di komiknya itu ya benar-benar terjadi semua (di komik itu).

Dulu juga pernah, saya kasih komik saya ke seorang kenalan yang masih SMA. Selesai baca, dia bilang "Nggak ngerti, mas!". Lumayan tertohok saya waktu itu. Bahahaha…


Hahaha…

Komik itu saya bikin tahun 2016. Kemungkinan besar saya sudah ngga bisa nulis macam begitu lagi. Hahaha.

Tapi segala tafsir setelah karya dilepas ke publik kan memang sudah jadi milik publik? Eh, gitu ya?

Sepakat banget ini mas!

Kemaren saya nonton Watchmen series di HBO, di mana ada 7th Cavalry yang dibentuk karena tafsir terhadap jurnalnya Rorschach. Kalau tiba-tiba ada yang bikin kultus-kultus horror karena membaca/menonton karya-karyamu, kamu bakalan gimana kira-kira, Dek?

Hahaha. Duh, gimana ya? Kalau sampai berbuat kekerasan atau merugikan orang lain, saya akan minta kontak mboknya* masing-masing, biar disuruh pulang.

Hahaha. semoga tidak terjadi, ya.

Karya-karya saya belum seberpengaruh itu mas, sepertinya. Hahaha. Jadi santai aja.

Ngomong-ngomong soal pengaruh, siapa komikus, penulis, atau siapapunlah yang mempengaruhi selera dan style-mu dalam berkarya?

Haduh banyak, dan sering berubah-ubah. Yang muncul di kepala saja, ya?

Iya, yang ingat aja.

Siap-siap list panjang ya, mas. Hahaha.

(5 menit tanpa lanjutan balasan. Saya berinisiatif memulai lagi percakapannya)

Lama, googling ya?

Pak Hasmi, Mas Ajon, Mas Adit Bujbunen, Azzam. Kazuo Umezu, khususnya Sote (terbitan Rajawali Grafitti) atau judul aslinya, Kami no Hidarite Akuma no Migite. Doraemon karya Duo Fujiko Fujio. Kartun-kartunnya Bruce Timm dan Genddy Tartakovsky. Komik-komiknya Takahasi Rumiko dan Chie Watari.

Ngabsen, hahaha. Oh iya, Junji ito, Suzzanna, Arizal, dan Sisworo Gautama jangan lupa. Banyak lah, apalagi kalau nyebut teman-teman komikus Indonesia yang menginspirasi, sensus ini nanti malahan.

Iya, tadi googling judul aslinya Sote. Nggak hapal hapal. Hahaha.


Judul komik indonesia yang harus dibeli? Tiga aja deh, biar nggak kebanyakan. Selain komikmu sendiri, ya.

Duh, cuma tiga. Methal Pertiwi, Code Helix, dan Enjah.

Kenapa suka masing-masing itu?

Suka Methal Pertiwi karena fresh dan otentik, berasa kalau komikusnya beneran hidup di era bahasa prokem dan waktu baca komik itu pertama kali, rasanya belum pernah baca komik dengan rasa campur aduk yang pas seperti itu. Menginspirasi hingga sekarang, dan kurasa ini sulit untuk diulang. Dan harus org indonesia yg nulis, baru bisa jadi kayak gitu.

Code Helix, karena saya sekantor sama yang bikin. Nggak, ding. Sebelum sekantor juga sudah suka. Suka penceritaan dan issue yang dipilih. Aku suka sekali cerita-cerita masa sekolah, khususnya SMA, dan Code Helix ini salah satu yang bikin kagum.


Kalo Enjah ini agak campur aduk alasannya dan mungkin sangat bias. Dulu murni tertarik karena belum nemu komik horor yang digarap serius dan bagus banget. Sampai lecek dan ingin rekomendasikan ke banyak orang. Lha Enjah ini seperti itu. Padahal aku termasuk orang yang udah cukup bosan dengan cerita horor dengan embel-embel klenik\mistisisme Jawa, tapi Enjah dan film Keramat, itu pengecualian.


Biasnya adalah karena aku pernah dengar tentang cerita di balik layar (atau di balik panel?)-nya Enjah ini. Konsep aslinya adalah dari mendiang mas Janang, salah satu pentolan komik mandiri Indonesia yg dihormati banyak komikus. Aku sering dengar tentang perjuangan beliau tentang komik Indonesia yang selalu bikin makin semangat. Pertama “ngeh” komik mandiri juga dari majalah kompilasi yang diprakarsai beliau: Komedo. Bahkan salah satu komik (karya mas Gugun Arief Ekalaya) di majalah itu jadi inspirasi salah satu komik pendekku.


Nggak apa-apa, sih. Suka bukan cuma soal teknis/kualitas komik doang, kan? Boleh dong ada unsur-unsur yang sifatnya personal dan subjektif. Pengecualian untuk sesuatu yang memerlukan pertanggungjawaban ke publik, penjurian misalnya.

Yoi, mas. Tulzzz

Methal Pertiwi dan Enjah sudah kubaca. Code Helix di webtoon ya? Aku belum baca. Untuk soal baca komik sepertinya aku agak konservatif, alias lebih terbiasa baca komik cetak.

Ada ini versi cetaknya. Bisa dipesan online dari lapak onlinennya toko buku terbesar seindonesia raya.

Masuk wishlist dulu lah. Buat update instagramnya sampulkomik.

Wah mantap. Ini sudah wawancaranya?

Kamu ada aktivitas lain?

Santai, sih. Belum mandi. Hahaha.

Karena #stayathome mandinya jadi dua hari sekali.

Bahahahaha…

Pertanyaan lanjutan, boleh ya? Kamu kan asli Malang, kuliah di Jogja, dan sekarang di Jakarta. Betul, ya?

100! Sebelum di Malang, numpang lahir dan TK di Blitar, dan sempat satu tahun di Kalteng.

Bah! Lumayan banyak itu portofolionya.

Bahahaha…

Menurutmu, gimana iklim ngomik di masing-masing kota tersebut?

Sepengamatanku aja ya?. Takut salah hahaha.

Tenang aja, kebenaran absolut hanya milik Tuhan...

Malang kurang tahu, karena waktu di Malang, saya lebih mendalami animasi, karena waktu SMK jurusannya itu. Sempat ikut ekskul komik tapi kukut, dan setiap ditanya mau mempelajari apa, saya selalu jawab "komik!". Tapi kalau sekarang sepertinya udah keren, ya? Ada mas Aji, Alis Naik, anak-anak UM, temen-temennya Yujin Sick itu juga.

Kalau di Jogja, saya mainnya sama anak-anak FKJ (Forum Komik Jogja), dan akhir tahun kemarin juga bantu-bantu teman-teman Mulyakarya dengan Yogyakarta Komik Weeks-nya. Merasa beruntung sekali bisa belajar berkomik di Jogja. Beragam dan ngguyub, manusianya maupun komiknya.

Kalau di Jakarta, karena ngerasainnya baru beberapa bulan dan terhadang korona, saya lebih sering terpapar perkomikan yg "ngindustri", meski rasanya tetap "ngomunitas". Lha tiap-tiap kepalanya sepertinya teman-teman sendiri, gitu.


Tapi ada beberapa kasus yang kalau di Jakarta sepertinya lebih tegas gitu. Misalnya kalau punya konflik atau berseberangan idealisme. Kalau nggak suka, ya sudah, nggak akan kerjasama lagi. Atau di Jogja juga begini tapi saya terlalu naif? Saya nggak tahu juga. Hehe.


Kayak gimana tuh contohnya yang di Jakarta?

Deka menyebutkan beberapa contoh yang dia maksud (off the record)

Bicara soal iklim komik kan bicara soal, mungkin: komunitas, event, ekspose media, dukungan dari pemerintah atau yang lainnya, dan pastinya penikmat karya. Pendapatmu, secara umum aja, iklimnya di sini tuh gimana? Apa yang lebih, dan apa yang kurang?

Sebentar. Mikir dulu. Hehehe

Termasuk misalnya penilaianmu ke penikmat karyamu...

Kalau melihat dari event dan komunitas, rata-rata semangatnya seperti terpecah, yang fokus berkarya sebaik2nya dan yang fokus menjual sebanyak-banyaknya. Dan ini sehat sehat saja menurutku.

Kedatangan platform online juga merupakan paradoks, karena merusak iklim sekaligus menghidupi komikus yang beneran ingin hidup dari komik. Meski nggak ada yang tahu platform platform semi-gratis ini bisa bertahan sampai kapan.


Yang bahaya itu, ada pembaca pembaca yang sudah terbiasa dengan komik online yang gratis, entah dari medsos atau penerbit komik web. Komik aja udah jadi media kelas dua. Atau malah kelas sembilan?? Jongkok sekali pokoknya. Digratiskan lagi. Nggak tahu ini masa depannya bakal gimana. Semoga sehat-sehat lah.


Merusak iklim dalam arti menjadikan pembaca terbiasa gratis, gitu ya? meskipun komikus tetap dibayar?

Iya, benar. Tapi pembacanya jadi punya anggapan bahwa baca komik nggak perlu bayar. Atau lebih parah, tidak pantas mengeluarkan uang. Hiii…!

Menurutmu, tugas siapa mengedukasi pembaca, soal itu?

Penerbit, atau yg ada urusannya sama sales dan marketing kali ya? Nggak yakin juga. Komikus sebaiknya tugasnya berhenti di membuat komik.

Bisa jadi. Tapi dalam kasus webtoon, bukankah komik adalah konten yang memang tujuannya digratiskan untuk mendapatkan pendapatan yang lain, iklan misalnya? Seperti televisi atau radio.

Iya ya, jadi ini udah beda ranah ya ini sama komik cetak??

Nggak ada orang yang bayar untuk nonton sinetron azab di Indosiar...

Benar juga ini

Soal "komikus sebaiknya tugasnya berhenti di membuat komik." Apakah kamu melihat ini sebagai kekurangan iklim komik tanah air? Asumsiku selama ini, faktor terlemah komik kita adalah kanal distribusi, dan ini mengakibatkan komikus kadang harus ikut mengurusi distribusi karyanya. Meski ada juga yang memang pengen mengurusi semuanya sendiri.

Apa, ya? Ini jatuhnya kayak harapan aja. Kalau industrinya sudah kebentuk dengan baik, ujungnya yang menurutku paling ideal seperti itu. Soal distribusi, aku setuju.

Ada berapa toko yang menjual komik indonesia, online maupun offline yang kamu tahu?

Kalau yang khusus komik cuma tahu punya sampeyan (Sampul Komik Shop), Anjaya, dan Connectoon.

Toko offline-nya cuma ada 1 untuk seluruh Indonesia. Gila nggak, tuh?

Hahahaha. Lha iya.

Soal industri ini, di mana tugas komikus berhenti di membuat komik, pasti akan banyak tangan yang terlibat di luar komikus.

Iya. Kayak di Eropa, komikus udah kayak musisi. Setahun satu album (buku). Ideal banget itu menurutku. Pemasaran yang ngurus ya penerbit.

Apakah kamu sebagai komikus cukup siap untuk, katakanlah, secara kasar, berbagi hasil dengan tangan-tangan lainnya yang sama sekali nggak ikut ngebikin komik itu?

Siap siap aja, asal hitungannya benar dan bisa buat hidup enak. Hahaha.

Mutualisme lah, ya? Fair trade…

Yoiii

Pertanyaan terakhir deh. Udah lumayan panjang ini. Kali ini nggak tentang komik...

Siap!

Apa ya?

Apa hayoo...

Apa makanan teraneh yang pernah kamu coba di Jakarta ini?

Haduh, apa ya? Sudah sebulan nggak makan di luar. Jadi lupa.

Ada ding. Burgushi. Burger tapi sushi. Makanan juga bisa krisis identitas rupanya.


Hahaha, diversifikasi identitas juga bisa. Eh, rekomendasiin tempat makan enak dong, buat pembaca.

Olive Fried Chicken, Yogya. Hahahaha

Telo!

Beneran ini.

Jakarta dong…

Wah, Jakarta. Belum cukup nJakarta untuk rekomen makanan. Paling bakmi medan di mangga besar. Wenak nan.

Oke biar adil: Malang, Jogja, Jakarta

Malah ditambahiii…!

Kalau Malang coba bakso rombong coklat depan masjid samping Matos. Nggak ada namanya. Cari aja bapaknya pendek dan biasanya ruame.


Oooh iya, Jakarta ada nih: ketoprak depan Alfamidi Kalipasir. Mantap itu. Legendaris. Saya termasuk penggemar bumbu kacang. Nasi sama bumbu kacang thok aja paling juga sudah senang. Hahaha.


Wuaduh, cukup bertolak belakang ini sama saya. Ngomong-ngomong, terima kasih obrolannya, ya. Kalau pandemi ini berakhir dan kita tetap sehat dan baik-baik saja, ayo kita makan-makan!

Siaaap. Makan bakmi aja, yok!

Di Mangga Besar itu? Boleh, aku juga belum pernah. Bakmi Jon di Blok M juga enak. Oh iya, ini nanti dimuat di blogku, ya?

Okay!

Terima kasih, Deka!

Sama sama!

***

Suka dengan konten ini? Silakan berdonasi seikhlasnya agar sang kreator konten bisa sumringah dan bahagia karena karyanya diapresiasi.

Donasi via Gopay
  1. Buka aplikasi GoPay di ponsel.
    >
    Dari desktop: scan QR code di bawah ini menggunakan aplikasi Gopay.
    > Dari ponsel: screenshot atau unduh (tekan lama pilih "download gambar") gambar lalu unggah ke aplikasi Gopay kamu.
  2. Lalu kirimkan pesan berisi "DONASI (*PRODUK)" beserta nama email via fitur pesan yang ada pada aplikasi Gopay. *Ganti kata "PRODUK" dengan judul atau rilisan yang diapresiasi
Donasi via transfer bank
> Transfer ke rekening: BCA norek: 2060397891 a/n Chandra Agusta
> Kirim bukti donasi ke email: gerbongbelakang@gmail.com dengan subyek: DONASI ("NAMA PRODUK")


Tentang Penulis

Pemuda Gerbong Belakang. Pemuda dusun. Menghabiskan masa anak anak dan remajanya di pelosok Sumatra. Melayu tulen.
E-mail: gerbongbelakang@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ikuti si Kami